Friday, April 12, 2013

Roro Jonggrang dalam Perspektif Sejarah

Akhir Maret 2013 anakku 'Aan' yang masih kelas X di SMA 8 Yogyakarta pentas teater di Taman Budaya Yogyakarta. Jika selama ini aku melihat TBY adalah sebuah artefak seni bermenara gading, maka kini aku merasa menjadi salah satu entitasnya. Itu karena tentu saja yang sedang bermain peran salah satunya adalah darah dagingku sendiri. Kini merasa benar-benar telah menjadi warga budaya Yogyakarta.

Joan Thompson Pelajar AS turut pentas
Lakon yang diperankan kali ini adalah Roro Jonggrang. Ini adalah pementasannya kedua setelah sukses pentas pertama di Gedung Teater Pujokusomo UNY akhir November 2012 lalu. Kisah cinta Roro Jonggrang dan Bandung Bandawasa tentu tidak asing lagi di telinga kita. Tentang cinta besar Bandung Bandawasa kepada Roro Jonggrang namun Jonggrang menolak 'dimiliki' dengan memberinya tantangan untuk membangun 1000 candi dalam waktu semalam. Oleh karena kesaktian Bandawasa dengan mengerahkan pasukan makhluk halus (atau alien kali? he...he....gosipnya candi-candi besar Indonesia dibangun oleh Alien) mampu menyelesaikan tantangan itu namun Jonggrang berhasil menggagalkan ketika kurang satu candi bunyi lesung para mbok emban Jonggrang bertalu-talu dan membuat makhluk halus itu kabur dikiranya sudah terbit fajar. Gagal lah Bandung menyelesaikan tantangan cinta ini.

Diselimuti angkara murka yang membuncah, Bandung pun gelap mata dan menyihir Jonggrang menjadi patung untuk melengkapi menjadi candi ke-1000. Dan kini kita bisa menikmati patung Roro Jonggarang itu di Kompleks Candi Prambanan. Aku sudah berkali-kali bertandang ke sana dan melihat kecantikan patung Roro Jonggrang dan menjumpai kisah-kisah mitos putusnya orang yang berpacaran di Candi Prambanan. Namun pertanyaan besar muncul setelah menyaksikan pentas teater anakku tersebut. Apakah ada sisi sejarah yang bisa dijelaskan dari kisah itu? apalagi diceritakan dalam lakon itu bahwa Bandung Bandawasa itu adalah putra mahkota Kerajaan Pengging. hah??? kok Pengging? ini menghenyak kesadaran sejarahku.

Pertama, selama ini aku berpikir kisah Roro Jonggrang jadi patung hanyalah mitos dan sebuah dongeng rakyat pengantar bobo anak kecil. Sebuah sastra tutur tentu sangat sulit dikaitkan dengan artefak-artefak arkeologis sehingga seringkali dijauhkan dari entitas ilmu sejarah.
(untuk melanjutkan klik permalink)


Kedua, Prambanan sudah banyak diketahui didukung oleh aktivitas kerajaan pada abad ke-8. Sedangkan kita kenal kisah Pengging adalah masa-masa Kerajaan Demak abad 23-an. Bagaimana mungkin terjadi perang antara dua kerajaan yang berbeda era bahkan secara topografi juga berjauhan apalagi ukuran pada zaman itu tentu menjadi sangat jauh sekali rasanya. Pengging terletak di Boyolali sedangkan Prambanan di dekat Yogyakarta.

sketsa arca Roro Jonggrang
Dan ketiga tentu saja tentang kisah cintanya. Arogansi lelaki Jawa dalam cinta memang selalu tergambarkan begitu 'masokis' (setidaknya begitulah menurutku). Dalam kisah Rama dan Shinta cinta itu mengakibatkan terbakarnya Kerajaan Alengka. Ken Arok dan Ken Dedes, kisah cintanya memakan tumbal nyawa hingga tujuh turunan. Ki Ageng Mangir dan Pembayun kisah cintanya menyebabkan nisan Ki Ageng Mangir terpisah di dalam dan luar tembok. Dan masih banyak lagi kisah cinta yang disertai 'kekerasan' ego yang miris.

Namun, teater yang dimainkan anak-anak SMA 8 ini sungguh istimewa dalam besutan kisah cintanya. Ketika Jonggrang dikutuk jadi batu (arca) arwahnya menemui Bandung Bandawasa dan berkata bahwa Bandawasa bisa memiliki tubuhnya namun jiwanya tidak bisa kecuali jika dia telah berhasil memurnikan hasrat cintanya. "Di sini aku menunggu cinta sucimu, Bandung. Jika dunia tidak bisa menyatukan cinta kita, maka di Swargaloka cinta kita kan berpadu..." suara lembut Roro Jonggrang disambut tepuk meriah penonton mengakhiri pementasan yang hampir memakan durasi dua jam ini.

Pentas boleh usai, anakku hiberhasi beberapa hari melepaskan lelah. Tetapi imajinasiku mengambang mencari jawab : ada hubungan apa Kerajaan Prambanan dengan Kerajaan Pengging? Untunglah sekarang kita punya mbah Google, dan jawaban tak harus saya tempuh lama dengan keluar masuk perpustakaan. Inilah dia kiranya skrip sejarah yang secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan.
*****
**
*
Secara politik kerajaan Pengging ini belum dapat dipastikan apakah merupakan vasal (raja bawahan) dari kerajaan Mataram atau mungkin juga merupakan bumi perdikan yang lepas dari kerajaan Mataram. mengingat prasasti yang menerangkan kerajaan Pengging belum ditemukan, satu-satunya bukti tertulis hanyalah prasasti pengging yang dikeluarkan pada tahun 819 oleh Rakarayan i Garung bersamaan dengan Smarattungga berkuasa di Mataram. Pada Prasasti Pengging yang berangka tahun 819 M hanya menyebutkan adanya pendirian bangunan suci agama siwa dan tanah itu diberikan pada masyarakat setempat untuk dijaga sebaik mungkin, kemungkinan besar bangunan yang dimaksud adalah sebuah candi Hindu mengingat didaerah Pengging banyak terdapat Yoni yang bertebaran diberbagai tempat belum lagi banyaknya arca arca siwa yang telah hilang
 
Pada waktu itu telah ada konsep Otonomi kekuasaan walaupun memunculkan Ketegangan politik karena benturan kepentingan pusat dan daerah sering timbul. Itu pula yang pernah terjadi. Di Jawa, lebih sepuluh abad silam populasi penduduk terbatas, wilayah berpenduduk terisolasi dan juga sulit komunikasi. Penyelenggaraan kekuasaan yang terpusat atas beberapa wilayah susah terselenggara. Penguasa masa lalu hanya dapat mempertahankan kekuasaannya dengan tiga jurus sakti. Pertama pemberian otonomi luas, kekayaan, martabat dan juga perlindungan. Kedua memelihara kultus kebesaran mengenai diri dan istananya. Ketiga memiliki militer yang kuat. Tidak ada bentuk negara dengan kekuasaan mutlak dan kekuasaan tunggal waktu itu. Kerajaan terdiri dari daerah-daerah otonom yang diperintah oleh para rakai atau rakryan. Mereka adalah penguasa di daerah yang mempunyai otonomi cukup luas. Umumnya masih merupakan garis keturunan Sri Maharaja baik melalui garis darah maupun melalui perkawinan. ( Sarjiyanto : 2003 ) dan Pengging tampaknya merupakan bagian dari wilayah yang memiliki otonomi yang dimaksud. Jika Pengging sebagai daerah otonomi, dimana letaknya? Sementara pusat ibukota Mataram Kuna baru dikenal dari namanya yaitu Medang i bhumi Mataram i Poh pitu, i Mamrati dan i Watugaluh. Seorang rakai sering memiliki sejumlah wanua atau komunitas desa dan senantiasa berusaha meningkatkan prestise dengan memperbanyak bangunan suci. Wanua berada dibawah rama (pejabat desa) sebagai pembesar mereka dan sudah berkelompok dalam watak atau federasi-federasi regional. Seorang Rakai juga sering membuka tanah untuk dianugerahkan pada komunitas Hindu atau Budha yang pada gilirannya diimbangi dengan balasan berupa pemberian gelar-gelar simbolis terutama gelar maharaja, sebuah gelar tertinggi. Dari sini tampaknya integrasi pedesaan dan konsolidasi kekuasaan pada waktu itu sudah cukup maju. Sebagai penguasa dalam lingkungan daerah seorang rakai kadang menguasai arah kebijakan yang akan dilakukan dalam wilayah kekuasaannya termasuk pengembangan bangunan sucinya. Dalam membangun bangunan suci tidak jarang seorang rakai meniru budaya pusat yang menarik dan sebagian yang lain membangun ciri spesifik tersendiri. ( Sarjiyanto : 2003 ) Jika demikian maka dapat disimpulkan pertama tahun 819 Pengging merupakan daerah otonomi yang diperintah oleh seorang Rakai atau Rakryan bawahan raja Mataram. Kedua Pengging merupakan kerajaan tersendiri tetapi menjadi sekutu Mataram, jika dilihat dari sisa peninggalan disekitar situs Pengging menunjukkan bahwa Pengging adalah penganut Siswa sama seperti dinasti Sanjaya. Setelah Rakai Pikatan berhasil menyatukan kedua wangsa melalui perkawinannya dengan Pramodhawardhani kerajaan Mataram bersekutu dengan Pengging untuk menghancurkan kekuatan Balaputradewa yang bertahan di Benteng Ratu Boko . dari epigrafi yang tertulis di benteng Ratu Boko menunjukkan bahwa tempat itu didirikan oleh Rakai Panadwara yang beragama Budha tetapi disekitar bangunan terdapat bentuk bentuk yang bercirikan Hindu. Jelas adanya campur tangan kekuasaan Hindu hal inilah yang mendukung teori Penguasa Mataram Hindu berupaya menghancurkan kekuatan Balaputradewa yang beragama Budha, kekalahannya melawan kekuatan sekutu Pengging-Mataram menyebabkan ia harus melarikan diri ke Sriwijaya.

1 komentar:

oot surojo said...

Itu tulisan saya yp blm dilengkapi literatur lain paling2 nanti merujuk kitab witaradya ranggawatsito